Fen-O-mena
Hari ini kita menyaksikan suatu fenomena sejarah yang luar biasa: Amerika memilih Barack Obama dan menjadikannya pria kulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika Serikat. Bukan main.
Kita di Indonesia, sama seperti di negara lain, juga jatuh cinta pada Obama. Online poll di detik.com misalnya, memberi persentase kemenangan untuk Obama jauh lebih besar dari kemenangan yang sebenarnya di pilpres Amerika.
Kita suka Obama. Itu jelas.
Pertanyaannya sekarang: Bisakah kita menemukan 'obama-obama' di negara kita sendiri? Dan yang lebih penting lagi, bila 'obama' Indonesia itu kita temukan, apakah kita akan memberikan suara kita untuk dia? Memilih dia untuk menjadi presiden kita?
Mari kita berkhayal dengan imajinasi kita untuk membayangkan seperti apa kira-kira 'obama' milik Indonesia:
Barack Obama adalah setengah kulit putih dan setengah kulit hitam. Ibunya dari Kansas, dan Ayahnya dari Kenya. Di Amerika, kulit putih adalah mayoritas, dan kulit hitam adalah golongan minoritas terbesar. Di Indonesia, ini berarti 'obama' kita mempunyai ibu yang asli Indonesia (misalnya dari suku Jawa, yang populasinya terbesar. Jadi mari kita anggap Ibunya asal Solo, Jawa Tengah) sementara ayahnya warga Indonesia berdarah Cina, anggaplah ia berasal dari propinsi Fujian, Cina.
Nama Barack Obama adalah nama dari Afrika, negeri asal Ayahnya, dan tidak lazim di Amerika. Obama sendiri sering menyebut dirinya sebagai seseorang dengan 'nama yang aneh' (funny name). Jadi mari kita beri nama 'obama' kita dengan nama yang bukan asli Indonesia. Sebut saja namanya Vincent Tjoa, sama seperti nama Ayahnya. (Nama ini hanya contoh saja).
Barack Obama beragama Kristen, dengan ayah yang beragama Islam. Di Amerika agama Kristen adalah agama mayoritas. Di Indonesia, agama mayoritas adalah Islam. Jadi bayangkanlah Vincent kita ini beragama Islam, dengan Ayah yang beragama Kristen.
Vincent Tjoa, Islam, Ibu asal Solo, Ayah beragama nasrani berdarah Cina. Sudah?
Mari kita berimajinasi lebih lanjut dan membangun seperti apa Vincent Tjoa kita ini:
Seperti Barack Obama, Vincent masih muda, patriotik, dan penuh idealisme. Hidupnya di masa kecil cukup sulit: Sang Ayah meninggalkan keluarganya ketika ia masih kecil, dan ia dibesarkan oleh Kakek Neneknya yang dari Solo. Dengan kerja keras, Vincent berhasil lulus dari sebuah universitas top di negeri ini (sebut saja ITB, atau UI). Setelah lulus, walaupun ia mendapat tawaran untuk bekerja di Jakarta dengan gaji tinggi, Vincent memilih untuk bekerja di daerahnya, membantu masyarakat miskin di sana, walaupun dengan tawaran gaji yang seadanya.
Ia lalu memutuskan untuk terjun ke politik dan menjadi wakil rakyat di DPR, mewakili daerahnya. Sebagai wakil rakyat ia adalah wajah baru dan lebih menawarkan idealisme daripada pengalaman. Ia juga sangat populer, terutama di kalangan anak muda yang sudah capek dengan budaya korupsi di negeri ini. Mereka melihat bahwa Vincent mengerti aspirasi mereka, mengerti semangat mereka, cita-cita mereka, idealisme mereka dan mampu membawa Indonesia ke masa depan yang jauh lebih baik dari sekarang.
Dua tahun kemudian, Vincent memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden RI.
Kampanye yang ia lakukan bersifat akar rumput, dengan beratus-ratus relawan dari beragam kalangan yang membantunya merangkul para pemilih dari seluruh pelosok negeri. Kampanyenya rapi, disiplin, dan yang lebih penting lagi: dilengkapi program-program yang sangat terstruktur dan detil mengenai bagaimana Vincent akan membawa Indonesia mencapai potensinya.
Vincent pintar berpidato. Kata-katanya membangkitkan semangat. Memberi inspirasi. Menggerakkan hati. Mempersatukan. Memberi harapan.
"Kita bisa menjadi negara yang makmur dan bebas dari kemiskinan," serunya dalam kampanye, "kalau saja kita mau bekerja bersama-sama, bahu membahu. Bukan untuk saya. Tapi untuk anda. Untuk kita. Untuk Indonesia!"
Vincent juga berjanji untuk mengakhiri politik yang membelah-belah negeri kita, yang mencerai-beraikan kita berdasarkan agama, suku dan ras: "Tidak ada Jawa Indonesia, tidak ada Batak Indonesia, tidak ada Cina Indonesia atau Arab Indonesia. Tidak ada Islam Indonesia, atau Kristen Indonesia. Yang ada hanyalah SATU Indonesia! Bhinneka Tunggal Ika, beragam-ragam dan tetap satu!"
Lawan politiknya dalam pilpres adalah wajah lama di dunia politik Indonesia. Seorang purnawirawan militer, orang Indonesia asli, muslim, dengan pengalaman puluhan tahun sebagai anggota DPR. Partai yang mencalonkannya adalah partai yang pernah lama berkuasa, dan di mata sebagian rakyat dianggap sebagai kekuatan status quo.
Kekayaan pribadinya melimpah dan kampanyenya dijalankan oleh wajah-wajah lama di DPR/MPR dan istana.
Pertanyaannya sekarang: berdasarkan cerita di atas, apakah kita, rakyat Indonesia, akan memberi suara kita untuk Vincent Tjoa?
Bisakah kita menilai dia berdasarkan kualitas dirinya dan tidak melulu mempertimbangkan latar belakangnya, Ayahnya yang berasal dari Fujian Cina, namanya yang 'kurang' Indonesia, agama Ayahnya yang bukan mayoritas, dan ras-nya yang hanya setengah asli Indonesia?
Bisa? Tidak bisa?
Kalau tidak bisa, kenapa?
Kalau tidak bisa, lalu mengapa kita meng-elu-elukan Barack Obama? Apakah karena ia merepresentasikan sebuah mimpi yang kita tak akan pernah bisa dapatkan?
Dalam satu dekade Indonesia telah berhasil melepaskan diri dari kepemimpinan diktator dan memeluk demokrasi. Dan demokrasi yang kita bangun bukan sembarang demokrasi. Bukan demokrasi pura-pura. Demokrasi sungguhan yang memberi suara ke rakyat. Demokrasi yang berjalan baik.
Dan demokrasi kita akan berjalan lebih baik lagi bila kita mempraktekkannya sambil terus memandang ke masa depan. Ke apa yang ingin dan bisa kita capai. Kemajuan apa yang ingin kita raih.
Demokrasi adalah alat kita untuk memilih calon terbaik yang bisa memimpin kita untuk mencapai semua itu.
Calon terbaik. Bukan calon terbaik yang beragama ini atau itu, bukan calon terbaik dari suku ini atau itu, bukan calon terbaik dari ras ini atau itu. Dan yang jelas bukan karena calon itu adalah selebriti, atau presenter tv, atau penyanyi atau pemain film.
Kita harus memilih yang terbaik demi masa depan kita. Titik.
Kalau kita memang sudah begitu capek dengan korupsi yang begitu parah, sudah begitu haus akan perubahan, maukah kita mencari 'obama-obama' di antara kita?
Dan bila 'obama' itu kita temukan dalam diri Vincent Tjoa, beranikah kita untuk mendukungnya? Atau kita akan mengacuhkannya dan bahkan untuk mengakuinya sebagai kandidat pun sudah tidak mau?
Bersediakah kita untuk memberikan suara kita, memberikan mandat kita, dan memilihnya untuk memimpin kita?
Atau kita akan menyembunyikan kepala kita di pasir dan erat-erat menggenggam status quo?
Sementara itu kita terus bersorak-sorak mendukung Barack Obama yang milik Amerika...
Apakah ini bukan hipokrit namanya?
05 Nov 08, 07:22
Mbah Joyo, 14 Nov 08, 13:59
Koen, 02 Dec 08, 01:09
Atree, 08 May 09, 09:28
Levi, 19 Jun 09, 03:44