Opini

To be continued

Ya, to be continued, tampaknya itulah topik kita hari ini, karena tampaknya SBY sudah 'hampir' pasti menang. Silakan Pak. Rakyat sudah memutuskan. Silakan continue.

Melihat proses demokrasi kemarin, sungguh membuat kami terharu. Bukan apa-apa. Kami sudah tidak muda lagi (bila umur kami di rata-rata, maka Indonesia Anonymus akan berumur 54 tahun) dan kami sejak kecil hidup di bawah pemerintahan diktator. Banyak dari kami tak pernah menyangka akan masih hidup untuk menyaksikan ini:

Indonesia, untuk keduakalinya memilih presiden secara langsung. Toh proses kemarin berjalan begitu lancar dan natural seolah kita sudah melakukannya ratusan kali.
Bukan main.

Ya, tentu pemilu kemarin belum 100% sempurna. (Amerika yang sudah berpengalaman ratusan tahun dengan demokrasi pun sampai sekarang pemilunya tidak bebas masalah).

Tapi penghitungan suara kita punya kredibiltas yang jelas, dan KPU walaupun kadang 'nyeleneh' masih menerima kepercayaan penuh dari rakyat.
Untuk melihat betapa pentingnya ini, lihat apa yang terjadi di Iran sekarang: rakyat Iran memprotes hasil pemilu, turun ke jalan dengan resiko dipukuli, ditangkapi, bahkan sampai kehilangan nyawa. Karena apa? Karena mereka kehilangan kepercayaan pada lembaga pemilu mereka dan mempertanyakan kredibilitas penghitungan suara yang ada.

Kredibilitas itu penting. Dan kredibiltas itu kita punya.
Bukan main.

Satu hal lagi: George Bush pernah berkata "If this were a dictatorship, it'd be a heck of a lot easier" [1]. Ya, jadi diktator memang lebih mudah.
Ingat bahwa di tiga calon di pemilu kali ini ada tiga jenderal. Ingat juga bahwa kami-kami yang gaek ini sejak kecil hingga dewasa hidup di bawah pemerintahan militer. Jadi kadang kami pun kuatir: "Wah, kalau jenderal-jenderal itu mau, mereka bisa saja mengambil alih kekuasaan, seperti yang terjadi di Thailand...." [2]

Melihat kenyataan bahwa jenderal-jenderal tersebut memilih jalur demokratis walau ada resiko kalah, adalah sesuatu yang sangat bagus.

Lalu apa selanjutnya setelah ini?
Untuk pemerintahan SBY tentu sekarang saatnya menepati janji, meneruskan apa yang sudah dimulai, dan mudah-mudahan dengan lebih agresif dari sebelumnya.

Untuk partai-partai politik, mungkin sekarang saatnya untuk mulai mematangkan diri.
Masalahnya begini: Amerika misalnya, punya partai Demokrat dan Republik. Di Inggris ada partai Buruh dan partai Konservatif. Partai-partai ini, siapapun pemimpinnya, punya idealisme dan prinsip yang berbeda satu dengan yang lain.

Di Indonesia tidak. Di negara kita parpol lebih mirip kendaraan. Ketika Amien Rais ingin jadi presiden, ia buat partai. Ketika SBY ingin jadi presiden, ia buat partai. Wiranto juga begitu, Prabowo juga sama. Parpol jadi seperti mobil, yang dipakai untuk mengantar seseorang dari titik A ke titik B.

Karena itu timbullah pertanyaan di antara kami: "Selain membantu calon mereka untuk memenangkan pemilu, partai-partai ini ngapain lagi ya? Memperjuangkan apa mereka? Nilai-nilai apa yang membedakan mereka dari partai lainnya?"
Kami tidak tahu. Anda mungkin juga tidak. Jangankan kita. Anggota partai pun belum tentu tahu.

Kita bahkan tidak tahu kenapa kita bisa punya sebegitu banyak parpol, yang walaupun bendera dan warna kaosnya berbeda-beda, omongnya semua hampir sama.

Padahal kita belum tentu punya idealisme dan prinsip yang sama. Dan kita tak perlu punya idealisme dan prinsip yang seragam dalam hidup bernegara.

Sebuah pertanyaan sederhana "Haruskah pemerintah melarang rakyatnya untuk merokok" saja bisa menimbulkan debat tentang prinsip yang tiada akhir di antara kami.

"Ya nggak dong. Merokok kan pilihan pribadi. Masa' yang begitu pemerintah harus campur tangan. Kita kan tidak mau nanny state, yang semua-semua diatur pemerintah"

"Ih, kok gitu. Tugas pemerintah kan menjaga rakyatnya dari bahaya. Termasuk bahaya kanker".

"Wah kalau begitu sampai di mana batasnya apa yang bisa diatur pemerintah dan apa yang tidak? Terus, apa setelah itu? Pemerintah menegur kita karena tidak tengok kiri kanan sebelum nyebrang jalan?"

Kita semua punya idealisme dan prinsip yang berbeda-beda, dan partai politik perlu merenung dan memikirkan idealisme dan prinsip apa yang mereka ingin perjuangkan. Setelah itu, mereka bisa memilih calon yang akan memperjuangkan idealisme dan prinsip itu di parlemen dan pemerintahan. Semua harus dimulai dari prinsip dan idealisme.

Itu kalau mereka tidak mau cuma jadi kendaraan yang hanya ditunggangi bila diperlukan.

 

---
Sumber:

[1] CNN - Transition of Power: President-Elect Bush Meets With Congressional Leaders on Capitol Hill
[2] New York Times - Thailand

09 Jul 09, 09:06