---
Temans,
Lega deh sudah nyontreng. Lega lega lega.
Lega karena sebelumnya sumpah saya bingung mau pilih yang mana. Sebegitu bingungnya sampai saya tanya sana sini. Tanya suami, tanya ibu, tanya tetangga.
Suami saya bilang "ya pilih partai berdasarkan program-programnya. Mana yang programnya bagus itu yang dipilih." Tetangga juga bilang yang sama. "Pilih yang bagus buat negara aja mbak..."
Ngomong sih gampang, pikir saya. Mungkin saya perempuan bodoh, tapi kalau melihat apa yang ditawarkan parpol dalam kampanye, semua isinya hampir sama. Copy paste. Semua mengaku pro rakyat, anti korupsi, bla bla bla. Gimana memilihnya?
Sampai akhirnya ketika kebetulan ngobrol di telepon dengan Ibu saya, beliau berkata: "Nggak usah bingung. Nggak usah memikirkan yang tinggi-tinggi. Pikir apa yang penting buat kamu saja. "
Yang penting buat saya?
"Ya, yang penting buat kamu: Mulai dari dirimu sendiri. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, ibu dari seorang anak."
Kata-kata itu membuat saya berpikir. Yang penting buat saya? Ah, Ibu bikin bingung aja.
Kelamaan berpikir saya justru jadi melamun:
Yang pertama, entah kenapa saya teringat sebuah berita yang saya baca beberapa bulan yang lalu. Saya teringat sebuah nama: Lutfiana Ulfa.
Ingat Pujiono Cahyo Widanto alias Syekh Puji, yang mengaku Kyai dan menikahi Lutfiana Ulfa, bocah umur 12 tahun, secara siri, walau dilarang UU Tahun 1974 tentang Perkawinan? [1]
Saya punya anak perempuan umur 11 tahun. Waktu itu, begitu saya selesai membaca berita itu dan menatap wajah anak saya, saya menangis.
Di sebuah situs berita saya membaca Komisioner Komnas Perempuan Kiai Husein Muhammad berkata "Pernikahan siri sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena dalam Islam itu justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan bukan melindungi. Tidak boleh terjadi di bawah umur dan nikah siri. Ini harus ada solusi. Islam itu melindungi perempuan," [2]
Itu kata beliau. Dan saya setuju. Saya yakin bila hal di atas terjadi pada anak kita, kita akan mati-matian mencegahnya. Kenapa standar yang sama tidak berlaku bagi Lutfiana Ulfa?
Saya pun mencari-cari di internet, apakah ada tokoh politik yang secara terbuka mengecam perbuatan tak terpuji di atas. Yang saya temukan adalah kecaman dari Ketua Komisi VIII DPR Said Abdullah, yang berkata: "Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan syahwat." [3]
Dari partai mana beliau? Ternyata dari PDIP.
Sementara itu komentar dari Wakil Ketua DPR Hilman Rosyad Syihab adalah: secara agama, kesehatan, psikologis maupun sosiologis pernikahan itu tidak ada masalah [4].
Dari partai mana beliau? PKS...
Hmmm...
Dari situ pikiran saya berpindah ke hal lain yang juga terus tersangkut di pikiran saya. Tetangga saya, yang ditinggalkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Saya melihat dengan mata kepala sendiri penderitaannya. Betapa langit di atas kepalanya seolah runtuh.
Ah, ya, itu lagi itu lagi. Meributkan poligami. Tidak, saya tidak mau ikut dalam pro kontra poligami. Sangat sulit bagi perempuan muslim macam saya, untuk berkata bahwa saya anti sesuatu yang oleh agama saya diijinkan.
Tapi kalau saya ditanya "bila suami anda hendak menikah lagi, apakah anda akan memperbolehkan?" Maka saya akan jawab tidak. Tidak boleh. Dan menurut saya perempuan lain yang bisa berkata tidak juga akan memberikan jawaban yang sama.
Ini pemikiran saya, karena saya perempuan. Karena saya seorang istri.
Lalu saya membaca tentang sebuah LSM yang merilis daftar para caleg yang konon adalah pelaku dan atau pendukung poligami [5]. Merespons hal itu, seorang petinggi salah satu parpol berkata bahwa mengangkat isu poligami adalah "isu yang tak laku dan tidak akan mempengaruhi perolehan suara". [6]
Oh ya? Begitu ya? Hmmm....
Ya, kita bisa berargumen bahwa masalah pasangan hidup adalah hal pribadi, dan tidak boleh dicampuradukkan dengan hal lain. Tapi di pikiran saya, saya butuh pemimpin yang mau berkorban demi rakyatnya. Apa salahnya kalau pengorbanan itu dalam bentuk sedikit menahan hasrat duniawi? Masih jauh lebih mudah dibanding harus perang gerilya di hutan selama bertahun-tahun sambil menderita tuberkulosis seperti Jenderal Sudirman dulu, toh? [7]
Tampaknya Ibu saya benar.
"Pikir apa yang penting buat kamu saja. Mulai dari dirimu sendiri. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, ibu dari seorang anak."
Dan di hari pemilu, sayapun berjalan ke tempat pemungutan suara dengan berbekal kata-kata Ibu saya itu.
Inti dari tulisan saya adalah ini:
Ketika saya masuk ke bilik suara, saya memikirkan apa yang penting buat saya dengan keyakinan bahwa hal itu juga penting bagi mereka yang nasibnya sama seperti saya. Ketika saya di bilik suara, apa yang parpol sesumbarkan dalam kampanye di televisi, di radio, di poster-poster, di surat kabar, sudah tidak ada lagi di kepala saya. Yang ada di pikiran saya adalah apa yang dekat dengan kehidupan saya.
Mereka boleh saja berpromosi menjanjikan kemakmuran, peningkatan lapangan kerja, penggalakan ekspor, peningkatan pertumbuhan ekonomi, pemberantasan korupsi. Ya, semua itu penting untuk bangsa. Penting untuk rakyat. Tapi kalau itu yang saya pertimbangkan, semua parpol omongnya sama. Setali tiga uang. Copy & paste.
Sementara itu pikiran saya tertuju pada tetangga saya yang baru saja ditinggalkan suaminya yang menikah lagi, dan wajah Lutfiana Ulfa, anak di bawah umur yang dikawini pria gaek yang mengaku Kyai.
Ya, hal-hal itu penting bagi saya. Karena saya perempuan, dan karena saya mempunyai anak perempuan umur 11 tahun.
Tapi yang buat saya penting belum tentu penting bagi pembesar-pembesar partai. Sah-sah saja bila mereka tidak mempedulikan satu suara dari satu orang perempuan bodoh macam saya.
Siapalah saya ini.
Mereka berhak untuk tidak mempedulikan pendapat saya
Tapi di sisi lain, saya juga berhak untuk tidak memilih mereka menjadi wakil saya.
Contrengan saya bukan hadiah. Saya mencontreng untuk menitipkan nasib saya, dan nasib perempuan-perempuan lain yang seperti saya.
Ya, satu suara dari satu perempuan mungkin tidak ada artinya.
Tapi mereka harusnya ingat: di Indonesia, perempuan macam saya ini ada jutaan banyaknya...
--------------------------
Sumber:
[1] Kompas: Kasus Syekh Puji Bukan Semata Nikah Siri
[2] Detik: Kiai Husein Muhammad: Tidak Boleh Terjadi Nikah di Bawah Umur dan Nikah Siri
[3] Detik: DPR: Ini Bukan Persoalan Agama, Tapi Syahwat
[4] Detik: Anggota DPR: Tak Masalah Asal Semua Tercukupi
[5] Detik: 21 Nama Caleg Pelaku dan Pendukung Poligami Versi SPI
[6] Detik: Anis Matta: Itu Isu Nggak Laku, Soekarno Saja Masih Banyak Pendukungnya
[7] Wikipedia: Sudirman