Di pikiran kami, untuk menyebut perbuatan seseorang sebagai suatu kejahatan, maka harus ada korban yang dirugikan akibat perbuatan itu. Baik kerugian barang, luka-luka, atau kehilangan nyawa. Ketika pengguna memakai narkoba, korbannya tidak ada, selain diri mereka sendiri. (Mudah-mudahan ini jelas untuk membedakan antara pengguna narkoba dan pengedar narkoba. Pengguna narkoba bukan penjahat. Pengedar narkoba ya.)
Sekarang mari kita membayangkan: ok, pengguna narkoba tidak lagi diancam hukuman penjara. Lalu apa yang akan terjadi?
Beberapa teman menuliskan kekuatiran mereka:
1. Kalau orang bisa menggunakan narkoba tanpa takut dihukum penjara, apa jumlah pengguna narkoba tidak bertambah banyak? Kan mereka jadi tidak takut-takut lagi dalam mencoba?
2. Bila itu terjadi, apakah lalu akan banyak pengguna narkoba bergelantungan di jalan-jalan, bergeletakan di taman-taman kota?
3. Dengan negara tetangga tetap menghukum berat para pengguna narkoba, apakah Indonesia lalu jadi dibanjiri 'turis narkoba', orang-orang yang datang ke Indonesia hanya untuk memakai narkoba karena di Indonesia mereka 'aman' dari hukuman? Apa ini tidak bikin runyam reputasi Indonesia?
Pertanyaan yang masuk akal. Jadi mari kita diskusikan:
Tentu bila mengikuti keinginan kami, kami akan menulis lebih sering. Mending menulis daripada bekerja. Lebih menyenangkan, dan bebas stres.
Tapi seringkali sangat sulit bagi kami untuk menulis ketika di akhir hari badan sudah capek bekerja, dan sama seperti anda, kami harus kerja ekstra keras demi gaji yang serasa tak pernah cukup.
Ini bukan alasan tentunya. Banyak blogger-blogger lain yang juga sibuk tapi toh sanggup menulis dan menulis dengan sangat bagus.
Jadi kami akan berusaha untuk lebih baik.
Sementara itu, agar pembaca tidak bolak balik kecewa karena membuka blog ini dan tidak ada tulisan baru, ijinkan kami menyarankan untuk menggunakan feed reader. Anda bisa subscribe ke feed blog kami, bersama dengan blog-blog lain yang ingin anda ikuti, dan anda bisa melihat blog-blog mana yang ada tulisan baru, tanpa harus membuka blog-blog tersebut satu persatu. (Ini kalau anda belum tahu. Kalau sudah, tak usah indahkan saran di atas). Jangan kuatir, tidak ada iklan di RSS feed dan di blog kami.
Terimakasih sudah bersama kami hingga saat ini. Kami mungkin tidak sering menulis, tapi kami tetap menulis.
Buktinya, kami masih tetap blogging hingga saat ini, empat tahun sejak kami mendirikan blog ini di 2005.
Seperti kata rekan-rekan pria berumur di sini: "Masalahnya bukan bagaimana mendirikannya. Tapi bagaimana mengusahakan agar tetap berdiri selama mungkin."
Dan ya, kami masih bicara tentang blogging. :)
Yang kedua adalah Manuel Zelaya, presiden Honduras. Sama seperti Thaksin, ia memulai karirnya sebagai businessman. Sama seperti Thaksin ia dikudeta oleh militer. Alasannya, ia hendak mengubah konstitusi yang akan membuka peluang baginya untuk terpilih lagi sebagai presiden di pemilu mendatang [2].
Jadi di suatu pagi, tentara 'menciduknya' dari instana kepresidenan dan ia diterbangkan keluar Honduras, ke Costa Rica [3].
Dua pemimpin, sama-sama dikudeta, sama-sama berada di pengasingan.
Bedanya?
Melihat proses demokrasi kemarin, sungguh membuat kami terharu. Bukan apa-apa. Kami sudah tidak muda lagi (bila umur kami di rata-rata, maka Indonesia Anonymus akan berumur 54 tahun) dan kami sejak kecil hidup di bawah pemerintahan diktator. Banyak dari kami tak pernah menyangka akan masih hidup untuk menyaksikan ini:
Indonesia, untuk keduakalinya memilih presiden secara langsung. Toh proses kemarin berjalan begitu lancar dan natural seolah kita sudah melakukannya ratusan kali.
Bukan main.
(Teman dari teman kami menulis ini di sebuah jejaring sosial, di masa pemilu legislatif yang lalu. Tulisan tersebut kami sajikan di sini atas seijin penulisnya, dengan sedikit suntingan dan tambahan catatan kaki dari kami).
--
Temans,
Lega deh sudah nyontreng. Lega lega lega.
Lega karena sebelumnya sumpah saya bingung mau pilih yang mana. Sebegitu bingungnya sampai saya tanya sana sini. Tanya suami, tanya ibu, tanya tetangga.
Suami saya bilang "ya pilih partai berdasarkan program-programnya. Mana yang programnya bagus itu yang dipilih." Tetangga juga bilang yang sama. "Pilih yang bagus buat negara aja mbak..."
Ngomong sih gampang, pikir saya. Mungkin saya perempuan bodoh, tapi kalau melihat apa yang ditawarkan parpol dalam kampanye, semua isinya hampir sama. Copy paste. Semua mengaku pro rakyat, anti korupsi, bla bla bla. Gimana memilihnya?
Sampai akhirnya ketika kebetulan ngobrol di telepon dengan Ibu saya, beliau berkata: "Nggak usah bingung. Nggak usah memikirkan yang tinggi-tinggi. Pikir apa yang penting buat kamu saja. "
Yang penting buat saya?
Walaupun kecil, pulau-pulau ini penting, karena pantainya menjadi patokan untuk menentukan batas teritori Indonesia. Jadi kalau satu dari pulau ini hilang, batas teritori Indonesia pun harus mundur. Alhasil, Indonesia mengecil.
Seberapa parahkah keadaannya? Sebuah survey di tahun 2004 menunjukkan bahwa ketika ketika air laut surut, luas pulau Nipah adalah 73.6 ha. Ketika pasang, luasnya 'hanya' 1.8 ha...
Itu tahun 2004, sementara itu permukaan air laut naik 1-8mm per tahunnya. Mungkin kita tidak harus menunggu lama sebelum pulau ini tenggelam ketika air laut pasang.
Ingat bahwa pulau Nipah digunakan untuk mengukur batas dengan Singapura.
Jakarta juga tidak luput dari resiko. Dan bahaya datang bukan cuma dari naiknya permukaan air laut. Kita penduduk Jakarta menyedot begitu banyak air tanah untuk keperluan sehari-hari, hingga permukaan tanah Jakarta turun 1-10 cm per-tahunnya.
Ini, ditambah dengan naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global, runyamlah jadinya.
"Itu salah pemerintah dong?" ujar seorang teman "Kalau pemerintah bisa menyediakan air bersih untuk warganya, kita tentunya tidak perlu repot-repot memompa air tanah...."
Ah, ya, itu lagi. Menyalahkan pemerintah. Tapi nanti dulu. Kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu:
(Baca selanjutnya)Ya, pasar mobil di Cina saat ini sudah menjadi yang terbesar di dunia, mengalahkan Amerika Serikat, dan karena itu selera pembeli Cina pun jadi penting.
Salah satu desain yang diubah untuk mengikuti selera pembeli mobil di Cina: jok belakang harus lebih nyaman. Penyebabnya: banyak pemilik mobil di Cina yang mempekerjakan supir, jadi mereka lebih sering duduk di belakang.
Dieter Zetsche, chairman dari perusahaan mobil Daimler berkata "pusat gravitasi sudah bergeser ke timur". Bukan di barat lagi.
Majalah the Economist juga melihat betapa Asia semakin lama semakin penting. Majalah tersebut menambah kolom khusus membahas Asia, menyusul kolom-kolom yang sudah ada sebelumnya, yang membahas Eropa, Amerika dan Inggris.
"Bukankah ini abad milik Asia? Kami pikir begitu," Tulis majalah itu.
Abad milik Asia.
Tapi nanti dulu... (baca selanjutnya)
Berita bahwa masa sulit telah berlalu dan bank-bank kembali meraup keuntungan?
Tentu.
Maka Citibank pun melaporkan keuntungan 1.6 milyar dollar di kuartal pertama tahun ini. Bandingkan dengan kerugian 5.1 milyar dollar yang dialami bank tersebut di akhir tahun [1].
Goldman Sachs mengaku untung 1.81 milyar dollar [2]. Bank of America, 4.2 milyar [3].
Hebat? Tentu. Tapi bukan dalam bisnis, melainkan dalam trik sulap-menyulap.
Ini mungkin hal yang sukar dibayangkan, apalagi bagi sebagian penduduk di Indonesia yang setiap tahun secara teratur tertimpa bencana banjir: Dunia ternyata semakin lama semakin kehabisan air.
Bayangkan: Banyak sungai-sungai besar di dunia (Yellow river di Cina, Rio Grande di benua Amerika, Elbe di Jerman) saat ini ternyata sudah tidak bisa mencapai laut [1]. Airnya habis di tengah jalan!
Menurut PBB, diperlukan tindakan segera bila kita ingin menghindari krisis air global.
Ok. Jadi apa yang bisa dilakukan oleh rakyat biasa seperti kita ini? Menghemat air?