<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0"  xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>Indonesia Anonymus Feed</title>
<atom:link href="http://indonesia-anonymus.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://indonesia-anonymus.com</link>
<description>Indonesia Anonymus - Obrolan pekerja kerah putih tentang Indonesia</description>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 10:27:55 -0400</pubDate>
<generator>http://indonesia-anonymus.com/</generator>
<language>en</language>
<item>
<title>Tentang Narkoba</title>
<description><![CDATA[
Di waktu lampau, dan di buku kami, kami menulis opini bahwa pengguna narkoba seharusnya tidak dijebloskan ke penjara. Bahwa pengguna narkoba bukanlah kriminal, dan mereka bukan pelaku kejahatan.<p>Di pikiran kami, untuk menyebut perbuatan seseorang sebagai suatu kejahatan, maka harus ada korban yang dirugikan akibat perbuatan itu. Baik kerugian barang, luka-luka, atau kehilangan nyawa. Ketika pengguna memakai narkoba, korbannya tidak ada, selain diri mereka sendiri. (Mudah-mudahan ini jelas untuk membedakan antara pengguna narkoba dan pengedar narkoba. Pengguna narkoba bukan penjahat. Pengedar narkoba ya.)</p><p>Sekarang mari kita membayangkan: ok, pengguna narkoba tidak lagi diancam hukuman penjara. Lalu apa yang akan terjadi?</p><p>Beberapa teman menuliskan kekuatiran mereka:<br />1. Kalau orang bisa menggunakan narkoba tanpa takut dihukum penjara, apa jumlah pengguna narkoba tidak bertambah banyak? Kan mereka jadi tidak takut-takut lagi dalam mencoba?</p><p>2. Bila itu terjadi, apakah lalu akan banyak pengguna narkoba bergelantungan di jalan-jalan, bergeletakan di taman-taman kota? </p><p>3. Dengan negara tetangga tetap menghukum berat para pengguna narkoba, apakah Indonesia lalu jadi dibanjiri &#39;turis narkoba&#39;, orang-orang yang datang ke Indonesia hanya untuk memakai narkoba karena di Indonesia mereka &#39;aman&#39; dari hukuman? Apa ini tidak bikin runyam reputasi Indonesia?</p><p>Pertanyaan yang masuk akal. Jadi mari kita diskusikan:<br />Kami penulis-penulis Indonesia Anonymus sudah tidak muda lagi. Jadi kami tidak cukup funky untuk menyarankan legalisasi narkoba. Yang kami usulkan adalah dekriminalisasi. Berhenti menganggap penggunaan narkoba sebagai kejahatan, dan hukumannya jangan lagi penjara.</p><p>Ini berarti, narkoba masih tetap terlarang. Jadi kalau kita ketahuan menggunakan narkoba, kita akan masih berurusan dengan yang berwajib. Hanya kita tidak lagi dijebloskan ke penjara, tapi diarahkan untuk menerima terapi agar kita bisa terlepas dari ketergantungan kita. </p><p>Dekriminalisasi. Bukan legalisasi.</p><p>Tapi pertanyaannya kemudian adalah: kalau penggunaan narkoba hanya dihukum begitu ringan, apa tidak justru meningkatkan jumlah pecandu?</p><p>Untuk itu mungkin ada baiknya kita belajar dari pengalaman negara lain.<br />Di tahun 2001, Portugal memutuskan untuk melakukan dekriminalisasi narkoba [1], yang diartikan sebagai:<br />Memiliki narkoba untuk digunakan sendiri tetap terlarang, namun pelanggaran dari aturan ini akan dianggap sebagai pelanggaran administratif, dan bukan lagi dianggap sebagai kejahatan.</p><p>Dimulai di tahun 2001! Dan ingat bahwa Portugal adalah anggota Uni Eropa, di mana untuk rakyatnya berlaku &quot;freedom of movement&quot;, yang berarti warga negara Uni Eropa lain bisa keluar masuk Portugal dengan mudah.</p><p>Apakah lalu banyak &#39;turis&#39; dari negara Eropa lain yang lalu masuk Portugal hanya untuk menggunakan narkoba?<br />Ternyata tidak. 95% yang ketahuan menggunakan narkoba sejak 2001 adalah warga Portugal. Hampir tidak ada warga dari negara Uni Eropa lain.</p><p>Apakah lalu jumlah pengguna narkoba di Portugal naik setelah dekriminalisasi? Ternyata tidak. Bahkan sekarang angkanya termasuk yang terendah di Eropa.<br />Masalah yang terkait dengan penggunaan narkoba seperti kematian karena overdosis dan kasus HIV/AIDS pun turun drastis sejak 2001.</p><p>OK. Di atas kami menyebut bahwa hukumannya bukan lagi penjara, tapi terapi.</p><p>Seorang teman lalu berkata:</p><p>&quot;Terapi? yang bayar siapa? Terapi kan mahal? Dan banyak pengguna narkoba yang berasal dari kalangan tidak mampu? Siapa yang akan membiayai terapi mereka?<br />Pemerintah? Dari uang pajak? Saya tidak rela uang pajak yang saya bayar dipakai untuk terapi pecandu narkoba, sementara uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk pendidikan atau untuk pembangunan infrastruktur...&quot;</p><p>Tapi teman kami yang lain pun menjawab:<br />&quot;Lha, menurut kamu memang siapa yang membayari ongkos makan dan kesehatan narapidana yang dipenjara karena menggunakan narkoba? Penjara juga tidak murah. Belum lagi membayari jaksa, hakim, dan pengadilan untuk memproses semua kasusnya. Siapa yang bayar? Semua itu kita juga yang bayar lewat pajak, dan selama ini kita sudah terus menerus membayar.&quot;</p><p>&quot;Hitung juga biaya yang harus kita tanggung karena kita memenjarakan orang-orang yang sebenarnya produktif, dan masuk penjara karena iseng-iseng mencoba narkoba. Orang-orang ini seharusnya bisa bekerja, berpenghasilan, dan kemudian membayar pajak dari penghasilan mereka. Sebaliknya sekarang mereka hanya duduk di penjara, tidak produktif dan membebani negara.&quot;</p><p>Dengan memberikan terapi, uang yang kita keluarkan akan lebih memberikan manfaat. Dan kalau itu membantu menurunkan jumlah pengguna narkoba, seperti yang terjadi di Portugal, maka ke depannya pengeluaran kita akan lebih sedikit. Jadi lebih hemat kan? Daripada terus menerus membayari orang masuk penjara sementara masalah kecanduannya tidak juga teratasi?&quot;</p><p>Dan tentu setelah itu ada lagi yang berkomentar:<br />&quot;Wah, sudah terbayang deh nantinya akan seperti apa: Akan muncul klinik-klinik tidak jelas di sana sini, menerima subsidi pemerintah untuk memberikan terapi, lalu diam-diam &#39;menjual&#39; sertifikat &#39;lulus terapi&#39; ke mereka-mereka yang sanggup membayar, tanpa menyediakan layanan apa-apa. Ijasah aspal. Sertifikat terapi aspal...</p><p>&quot;Ayo, ayo, siapa yang mau beli...  surat bebas dari penjara... Diskon 20% buat pelanggan setia... ada program member get member... ayo.... &quot;</p><p>Waduh...</p><p>&nbsp;</p><p>----</p><p>Sumber:<br />[1]&nbsp;<a href="http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=10080">Cato.org</a> &nbsp;- Drug Decriminalization in Portugal: Lessons for Creating Fair and Successful Drug Policies</p><p>[2] Portugal&#39;s drug policy: Treating, not punishing<br />The Economist, August 29 - September 4 2009, page 23&nbsp;</p><p>[3] Drug Decriminalization in Portugal: Lessons for Creating Fair and Successful Drug Policies, Glenn Greenwald, CATO Institute.<br />(<a href="http://www.cato.org/pubs/wtpapers/greenwald_whitepaper.pdf">PDF File</a> .)&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/53/tentang_narkoba.html</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:27:07 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/53/tentang_narkoba.html</guid>
</item><item>
<title>Tetap Berdiri</title>
<description><![CDATA[
Walau tidak sering, kami kadangkala menerima email menanyakan kenapa kami tidak begitu sering menulis.<br />Buat kami ini mengharukan dan untuk itu kami sangat berterimakasih.<p>Tentu bila mengikuti keinginan kami, kami akan menulis lebih sering. Mending menulis daripada bekerja. Lebih menyenangkan, dan bebas stres.<br />Tapi seringkali sangat sulit bagi kami untuk menulis ketika di akhir hari badan sudah capek bekerja, dan sama seperti anda, kami harus kerja ekstra keras demi gaji yang serasa tak pernah cukup.</p><p>Ini bukan alasan tentunya. Banyak blogger-blogger lain yang juga sibuk tapi toh sanggup menulis dan menulis dengan sangat bagus.</p><p>Jadi kami akan berusaha untuk lebih baik.<br />Sementara itu, agar pembaca tidak bolak balik kecewa karena membuka blog ini dan tidak ada tulisan baru, ijinkan kami menyarankan untuk menggunakan feed reader. Anda bisa subscribe ke feed blog kami, bersama dengan blog-blog lain yang ingin anda ikuti, dan anda bisa melihat blog-blog mana yang ada tulisan baru, tanpa harus membuka blog-blog tersebut satu persatu. (Ini kalau anda belum tahu. Kalau sudah, tak usah indahkan saran di atas). Jangan kuatir, tidak ada iklan di RSS feed dan di blog kami.</p><p>Terimakasih sudah bersama kami hingga saat ini. Kami mungkin tidak sering menulis, tapi kami tetap menulis.</p><p>Buktinya,  kami masih tetap blogging hingga saat ini, empat tahun sejak kami mendirikan blog ini di 2005. <br />Seperti kata rekan-rekan pria berumur di sini: &quot;Masalahnya bukan bagaimana mendirikannya. Tapi bagaimana mengusahakan agar tetap berdiri selama mungkin.&quot;</p><p>Dan ya, kami masih bicara tentang blogging. :)</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/52/tetap_berdiri.html</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:07:47 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/52/tetap_berdiri.html</guid>
</item><item>
<title>Multitaskers were just lousy at everything</title>
<description><![CDATA[
Mengutip 
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/51/multitaskers_were_just_lousy_a.html</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 07:36:07 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/51/multitaskers_were_just_lousy_a.html</guid>
</item><item>
<title>Kisah Dua Pemimpin</title>
<description><![CDATA[
<p>Yang pertama Thaksin Shinawatra, perdana menteri Thailand. Berasal dari keluarga kaya raya, Thaksin memulai karirnya sebagai businessman sebelum kemudian terjun ke politik.<br />Ia terpilih menjadi perdana menteri Thailand di tahun 2001. Di tahun 2005 ia terpilih lagi, tapi di 2006 di tengah maraknya tuduhan korupsi terhadap dirinya, junta militer Thailand melakukan kudeta ketika ia sedang berada di luar negeri [1].</p><p>Yang kedua adalah Manuel Zelaya, presiden Honduras. Sama seperti Thaksin, ia memulai karirnya sebagai businessman. Sama seperti Thaksin ia dikudeta oleh militer. Alasannya, ia hendak mengubah konstitusi yang akan membuka peluang baginya untuk terpilih lagi sebagai presiden di pemilu mendatang [2].</p><p>Jadi di suatu pagi, tentara &#39;menciduknya&#39; dari instana kepresidenan dan ia diterbangkan keluar Honduras, ke Costa Rica [3].</p><p>Dua pemimpin, sama-sama dikudeta, sama-sama berada di pengasingan.</p><p>Bedanya? </p><p>Manuel Zelaya bersikeras untuk kembali ke Honduras, walaupun ia diancam akan ditahan bila menginjakkan kaki di sana. Pertama ia berusaha kembali dengan pesawat terbang, tetapi tidak bisa mendarat karena militer Honduras menutup runway [4].</p><p>Gagal menggunakan pesawat terbang, iapun menggunakan jalan darat. Naik mobil ke Nikaragua menuju perbatasan dengan Honduras, lalu menyeberangi perbatasan dengan jalan kaki. Setelah beberapa langkah melewati perbatasan, ia pun berhadapan dengan tentara yang melarangnya untuk terus maju. </p><p>Zelaya menceritakan percakapannya dengan tentara tersebut:</p><p><em>&quot;The colonel told me, &#39;You can&#39;t cross the border.&#39; I said, &#39;I can cross.&#39; I crossed, shook his hand and asked for communications with his higher-ups,&quot;</em> [5]</p><p>Ada yang bilang tindakannya ini hanya untuk publisitas. Hillary Clinton bahkan menyebut Zelaya bertindak &#39;gegabah&#39; [6]. Tapi walau bagaimana, satu hal yang jelas adalah: Zelaya bukan penakut.</p><p>Bagaimana dengan Thaksin Shinawatra?<br />Menghindari tuduhan korupsi dan hukuman penjara, ia tinggal di Inggris. Setelah adanya keputusan pengadilan Thailand yang menghukumnya 2 tahun penjara, pemerintah Inggris pun mencabut visanya. Thaksin lalu pindah ke Dubai yang konon tidak mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Thailand [7].</p><p>Ketika gerakan &#39;red-shirts&#39; (kaus merah) di Thailand melakukan protes anti pemerintah di April 2009, Thaksin mendukung para demonstran dan mengajak mereka untuk melakukan &#39;revolusi&#39; [8]. <br />Dari mana ajakan ini diserukan? Dari sebuah hotel mewah di Dubai [9].</p><p>Dua pemimpin, sama-sama dikudeta, sama-sama berada di pengasingan.</p><p>Dua pemimpin. <br />Sebuah kontras.</p><p>----- </p><p>Sumber: </p><p>[1] Wikipedia - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thaksin_Shinawatra">Thaksin Shinawatra</a> <br />[2] Wikipedia - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Manuel_Zelaya">Manuel Zelaya</a> <br />[3] Wikipedia - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/2009_Honduran_political_crisis">2009 Honduran constitutional crisis</a> <br />[4] Sky News - <a href="http://news.sky.com/skynews/Home/World-News/Honduras-President-Manuel-Zelaya-Stopped-From-Landing-At-Airport-As-Supporter-Shot-Dead-By-Soldier/Article/200907115329733?f=rss">Man Shot As Honduran Leader&#39;s Jet Blocked</a> <br />[5] CNN - <a href="http://www.cnn.com/2009/WORLD/americas/07/24/honduras.political.turmoil/">Ousted Honduran president returns to Nicaragua</a> <br />[6] CBS News - <a href="http://www.cbsnews.com/stories/2009/07/26/ap/cabstatepent/main5189812.shtml">Clinton Calls Zelaya Move &#39;reckless&#39;</a> <br />[7] Guardian - <a href="http://www.guardian.co.uk/world/2008/nov/16/thaksin-shinawatra-thailand-divorce">Fugitive Thaksin heads for Dubai after divorce from &#39;very close&#39; wife</a> <br />[8] The Australian - <a href="http://www.theaustralian.news.com.au/story/0,25197,25344054-25837,00.html">Fugitive Thaksin Shinawatra on move to Africa</a> <br />[9] Youtube - <a href="http://www.youtube.com/watch?v=gl03mf5WH6Q">Former Thai PM sees political crisis from Dubai - 14 Apr 09</a> <br /><br />&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/50/kisah_dua_pemimpin.html</link>
<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 09:39:36 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/50/kisah_dua_pemimpin.html</guid>
</item><item>
<title>It was a privately and socially costly waste of time and other resources.</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>William Buiter, mengomentari betapa tidak bergunanya (useless) ilmu makroekonomi dalam mengantisipasi krisis ekonomi.</p><p>&quot;Research tended to be motivated by the internal logic, intellectual sunk capital and esthetic puzzles of established research programmes  rather than by a powerful desire to understand how the economy works - let alone how the economy works during times of stress and financial instability.  So the economics profession was caught unprepared when the crisis struck.&quot;</p><p>Sumber:</p><p><a href="http://blogs.ft.com/maverecon/2009/03/the-unfortunate-uselessness-of-most-state-of-the-art-academic-monetary-economics/">Financial Times</a> &nbsp;-&nbsp;The unfortunate uselessness of most &#39;state of the art&#39; academic monetary economics</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/49/it_was_a_privately_and_sociall.html</link>
<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 03:30:17 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/49/it_was_a_privately_and_sociall.html</guid>
</item><item>
<title>To be continued</title>
<description><![CDATA[
Ya, to be continued, tampaknya itulah topik kita hari ini, karena tampaknya SBY sudah &#39;hampir&#39; pasti menang. Silakan Pak. Rakyat sudah memutuskan. Silakan <em>continue</em>.<p>Melihat proses demokrasi kemarin, sungguh membuat kami terharu. Bukan apa-apa. Kami sudah tidak muda lagi (bila umur kami di rata-rata, maka Indonesia Anonymus akan berumur 54 tahun) dan kami sejak kecil hidup di bawah pemerintahan diktator. Banyak dari kami tak pernah menyangka akan masih hidup untuk menyaksikan ini:</p><p>Indonesia, untuk keduakalinya memilih presiden secara langsung. Toh proses kemarin berjalan begitu lancar dan natural seolah kita sudah melakukannya ratusan kali.<br />Bukan main.</p><p>Ya, tentu pemilu kemarin belum 100% sempurna. (Amerika yang sudah berpengalaman ratusan tahun dengan demokrasi pun sampai sekarang pemilunya tidak bebas masalah).</p><p>Tapi penghitungan suara kita punya kredibiltas yang jelas, dan KPU walaupun kadang &#39;nyeleneh&#39; masih menerima kepercayaan penuh dari rakyat.<br />Untuk melihat betapa pentingnya ini, lihat apa yang terjadi di Iran sekarang: rakyat Iran memprotes hasil pemilu, turun ke jalan dengan resiko dipukuli, ditangkapi, bahkan sampai kehilangan nyawa. Karena apa? Karena mereka kehilangan kepercayaan pada lembaga pemilu mereka dan mempertanyakan kredibilitas penghitungan suara yang ada.</p><p>Kredibilitas itu penting. Dan kredibiltas itu kita punya.<br />Bukan main.</p><p>Satu hal lagi: George Bush pernah berkata &quot;If this were a dictatorship, it&#39;d be a heck of a lot easier&quot; [1]. Ya, jadi diktator memang lebih mudah.<br />Ingat bahwa di tiga calon di pemilu kali ini ada tiga jenderal. Ingat juga bahwa kami-kami yang gaek ini sejak kecil hingga dewasa hidup di bawah pemerintahan militer. Jadi kadang kami pun kuatir: &quot;Wah, kalau jenderal-jenderal itu mau, mereka bisa saja mengambil alih kekuasaan, seperti yang terjadi di Thailand....&quot; [2]</p><p>Melihat kenyataan bahwa jenderal-jenderal tersebut memilih jalur demokratis walau ada resiko kalah, adalah sesuatu yang sangat bagus.</p><p>Lalu apa selanjutnya setelah ini?<br />Untuk pemerintahan SBY tentu sekarang saatnya menepati janji, meneruskan apa yang sudah dimulai, dan mudah-mudahan dengan lebih agresif dari sebelumnya.</p><p>Untuk partai-partai politik, mungkin sekarang saatnya untuk mulai mematangkan diri.<br />Masalahnya begini: Amerika misalnya, punya partai Demokrat dan Republik. Di Inggris ada partai Buruh dan partai Konservatif. Partai-partai ini, siapapun pemimpinnya, punya idealisme dan prinsip yang berbeda satu dengan yang lain.</p><p>Di Indonesia tidak. Di negara kita parpol lebih mirip kendaraan. Ketika Amien Rais ingin jadi presiden, ia buat partai. Ketika SBY ingin jadi presiden, ia buat partai. Wiranto juga begitu, Prabowo juga sama. Parpol jadi seperti mobil, yang dipakai untuk mengantar seseorang dari titik A ke titik B.</p><p>Karena itu timbullah pertanyaan di antara kami: &quot;Selain membantu calon mereka untuk memenangkan pemilu, partai-partai ini ngapain lagi ya? Memperjuangkan apa mereka? Nilai-nilai apa yang membedakan mereka dari partai lainnya?&quot;<br />Kami tidak tahu. Anda mungkin juga tidak. Jangankan kita. Anggota partai pun belum tentu tahu.</p><p>Kita bahkan tidak tahu kenapa kita bisa punya sebegitu banyak parpol, yang walaupun bendera dan warna kaosnya berbeda-beda, omongnya semua hampir sama.</p><p>Padahal kita belum tentu punya idealisme dan prinsip yang sama. Dan kita tak perlu punya idealisme dan prinsip yang seragam dalam hidup bernegara.</p><p>Sebuah pertanyaan sederhana &quot;Haruskah pemerintah melarang rakyatnya untuk merokok&quot; saja bisa menimbulkan debat tentang prinsip yang tiada akhir di antara kami.</p><p>&quot;Ya nggak dong. Merokok kan pilihan pribadi. Masa&#39; yang begitu pemerintah harus campur tangan. Kita kan tidak mau nanny state, yang semua-semua diatur pemerintah&quot;</p><p>&quot;Ih, kok gitu. Tugas pemerintah kan menjaga rakyatnya dari bahaya. Termasuk bahaya kanker&quot;.</p><p>&quot;Wah kalau begitu sampai di mana batasnya apa yang bisa diatur pemerintah dan apa yang tidak? Terus, apa setelah itu? Pemerintah menegur kita karena tidak tengok kiri kanan sebelum nyebrang jalan?&quot;</p><p>Kita semua punya idealisme dan prinsip yang berbeda-beda, dan partai politik perlu merenung dan memikirkan idealisme dan prinsip apa yang mereka ingin perjuangkan. Setelah itu, mereka bisa memilih calon yang akan memperjuangkan idealisme dan prinsip itu di parlemen dan pemerintahan. Semua harus dimulai dari prinsip dan idealisme.</p><p>Itu kalau mereka tidak mau cuma jadi kendaraan yang hanya ditunggangi bila diperlukan.</p><p>&nbsp;</p><p>---<br />Sumber:</p><p>[1] CNN - <a href="http://transcripts.cnn.com/TRANSCRIPTS/0012/18/nd.01.html">Transition of Power: President-Elect Bush Meets With Congressional Leaders on Capitol Hill</a> <br />[2] New York Times - <a href="http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/thailand/index.html">Thailand</a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/48/to_be_continued.html</link>
<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 09:06:21 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/48/to_be_continued.html</guid>
</item><item>
<title>Illegal immigration is a humanitarian question that should not be confused with criminality</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Luiz Inacio Lula da Silva, mengkritik negara barat yang bertindak keras terhadap imigran gelap, sesuatu yang menurutnya &#39;tidak adil&#39;. </p><p>&quot;Represi, diskriminasi dan tidak adanya toleransi tidak akan menyelesaikan akar permasalahnya&quot;.</p><p>Brazil sendiri berdasarkan perundangan yang dikeluarkan oleh presiden da Silva memberikan status legal bagi puluhan ribu imigran gelap. Penerima status ini akan berhak untuk bekerja, mendapatkan pendidikan dan menerima fasilitas kesehatan.</p><p>Sumber: Yahoo news -&nbsp;<a href="http://news.yahoo.com/s/afp/20090703/wl_afp/brazilimmigration_20090703005337">Brazil&#39;s Lula scolds rich nations on migration </a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/47/illegal_immigration_is_a_human.html</link>
<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 13:44:48 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/47/illegal_immigration_is_a_human.html</guid>
</item><item>
<title>Bang-bang beats tweet-tweet</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Thomas L. Friedman, mengomentari betapa kubu pro reformasi di Iran menghimpun kekuatan dengan memanfaatkan internet, melalui situs jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter. Namun begitu, menurut Friedman, rejim penguasa mempunyai sesuatu yang kubu pro reformasi tidak punya: senjata.</p><p>&quot;Guns trumps cellphone. Bang-bang beats tweet-tweet. &quot;</p><p>Sumber: International Herald Tribune, June 18, 2009, page 9.&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/46/bang_bang_beats_tweet_tweet.html</link>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 12:54:06 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/46/bang_bang_beats_tweet_tweet.html</guid>
</item><item>
<title>Reagan did it</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <span style="font-family: 'times new roman'; font-size: 16px" class="Apple-style-span"><div style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 10px; background-color: #ffffff"><p>Paul Krugman dalam tulisannya mengungkapkan bahwa penyebab krisis yang terjadi di AS sekarang dimulai sejak masa kepresidenan Ronald Reagan. Reagan dengan Reaganomics-nya melonggarkan standar pemberian kredit pada institusi finansial di Amerika, yang menyebabkan rakyat Amerika lebih banyak berhutang. Deregulasi di masa Reagan juga membuat sektor swasta lebih mudah berhutang.</p><p>Sumber:&nbsp;<a href="http://www.nytimes.com/2009/06/01/opinion/01krugman.html">New York Times</a>&nbsp;&nbsp;</p></div></span>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/45/reagan_did_it.html</link>
<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 12:28:48 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/45/reagan_did_it.html</guid>
</item><item>
<title>It seems my mission in history has already ended</title>
<description><![CDATA[
Mengutip berkata di depan para sesepuh partai komunis Cina, setelah usulnya untuk berdialog dengan mahasiswa demonstran ditolak oleh Deng Xiaoping. Zhao Ziyang kala itu menolak menggunakan kekuatan militer untuk membubarkan demonstrasi. Iapun dipecat dan peristiwa selanjutnya lalu dikenal sebagai tragedi Tiananmen Square, tgl 3 - 4 Juni 1989.<br />Beberapa hari sebelum tragedi terjadi, Zhao Ziyang sempat datang menemui para demonstran, memperingatkan mereka bahwa aparat pemerintah akan datang untuk membubarkan mereka. <p>Sumber: <a href="http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/people/z/zhao_ziyang/index.html">New York Times  </a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/44/it_seems_my_mission_in_history.html</link>
<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 04:31:29 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/44/it_seems_my_mission_in_history.html</guid>
</item><item>
<title>Pemilu dan suara seorang wanita</title>
<description><![CDATA[
(Teman dari teman kami menulis ini di sebuah jejaring sosial, di masa pemilu legislatif yang lalu. Tulisan tersebut kami sajikan di sini atas seijin penulisnya, dengan sedikit suntingan dan tambahan catatan kaki dari kami).<p>--- <br />Temans,</p><p>Lega deh sudah nyontreng. Lega lega lega.</p><p>Lega karena sebelumnya sumpah saya bingung mau pilih yang mana. Sebegitu bingungnya sampai saya tanya sana sini. Tanya suami, tanya ibu, tanya tetangga.</p><p>Suami saya bilang &quot;ya pilih partai berdasarkan program-programnya. Mana yang programnya bagus itu yang dipilih.&quot; Tetangga juga bilang yang sama. &quot;Pilih yang bagus buat negara aja mbak...&quot;</p><p>Ngomong sih gampang, pikir saya. Mungkin saya perempuan bodoh, tapi kalau melihat apa yang ditawarkan parpol dalam kampanye, semua isinya hampir sama. Copy paste. Semua mengaku pro rakyat, anti korupsi, bla bla bla. Gimana memilihnya?</p><p>Sampai akhirnya ketika kebetulan ngobrol di telepon dengan Ibu saya, beliau berkata: &quot;Nggak usah bingung. Nggak usah memikirkan yang tinggi-tinggi. Pikir apa yang penting buat kamu saja. &quot;</p><p>Yang penting buat saya?</p><p>&quot;Ya, yang penting buat kamu: Mulai dari dirimu sendiri. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, ibu dari seorang anak.&quot;</p><p>Kata-kata itu membuat saya berpikir. Yang penting buat saya? Ah, Ibu bikin bingung aja.</p><p>Kelamaan berpikir saya justru jadi melamun:</p><p>Yang pertama, entah kenapa saya teringat sebuah berita yang saya baca beberapa bulan yang lalu. Saya teringat sebuah nama: Lutfiana Ulfa.<br />Ingat Pujiono Cahyo Widanto alias Syekh Puji, yang mengaku Kyai dan menikahi Lutfiana Ulfa, bocah umur 12 tahun, secara siri, walau dilarang UU Tahun 1974 tentang Perkawinan? [1]</p><p>Saya punya anak perempuan umur 11 tahun. Waktu itu, begitu saya selesai membaca berita itu dan menatap wajah anak saya, saya menangis.</p><p>Di sebuah situs berita saya membaca Komisioner Komnas Perempuan Kiai Husein Muhammad berkata &quot;Pernikahan siri sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena dalam Islam itu justru harus melindungi perempuan. Kalau nikah siri, malah merugikan bukan melindungi. Tidak boleh terjadi di bawah umur dan nikah siri. Ini harus ada solusi. Islam itu melindungi perempuan,&quot; [2]</p><p>Itu kata beliau. Dan saya setuju. Saya yakin bila hal di atas terjadi pada anak kita, kita akan mati-matian mencegahnya. Kenapa standar yang sama tidak berlaku bagi Lutfiana Ulfa?</p><p>Saya pun mencari-cari di internet, apakah ada tokoh politik yang secara terbuka mengecam perbuatan tak terpuji di atas. Yang saya temukan adalah kecaman dari Ketua Komisi VIII DPR Said Abdullah, yang berkata: &quot;Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan syahwat.&quot; [3]<br />Dari partai mana beliau? Ternyata dari PDIP. </p><p>Sementara itu komentar dari Wakil Ketua DPR Hilman Rosyad Syihab adalah: secara agama, kesehatan, psikologis maupun sosiologis pernikahan itu tidak ada masalah [4].<br />Dari partai mana beliau? PKS...</p><p>Hmmm...</p><p>Dari situ pikiran saya berpindah ke hal lain yang juga terus tersangkut di pikiran saya. Tetangga saya, yang ditinggalkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Saya melihat dengan mata kepala sendiri penderitaannya. Betapa langit di atas kepalanya seolah runtuh.</p><p>Ah, ya, itu lagi itu lagi. Meributkan poligami. Tidak, saya tidak mau ikut dalam pro kontra poligami. Sangat sulit bagi perempuan muslim macam saya, untuk berkata bahwa saya anti sesuatu yang oleh agama saya diijinkan.</p><p>Tapi kalau saya ditanya &quot;bila suami anda hendak menikah lagi, apakah anda akan memperbolehkan?&quot;  Maka saya akan jawab tidak. Tidak boleh. Dan menurut saya perempuan lain yang bisa berkata tidak juga akan memberikan jawaban yang sama.<br />Ini pemikiran saya, karena saya perempuan. Karena saya seorang istri.</p><p>Lalu saya membaca tentang sebuah LSM yang merilis daftar para caleg yang konon adalah pelaku dan atau pendukung poligami [5]. Merespons hal itu, seorang petinggi salah satu parpol berkata bahwa mengangkat isu poligami adalah &quot;isu yang tak laku dan tidak akan mempengaruhi perolehan suara&quot;. [6] </p><p>Oh ya? Begitu ya? Hmmm....</p><p>Ya, kita bisa berargumen bahwa masalah pasangan hidup adalah hal pribadi, dan tidak boleh dicampuradukkan dengan hal lain. Tapi di pikiran saya, saya butuh pemimpin yang mau berkorban demi rakyatnya. Apa salahnya kalau pengorbanan itu dalam bentuk sedikit menahan hasrat duniawi? Masih jauh lebih mudah dibanding harus perang gerilya di hutan selama bertahun-tahun sambil menderita tuberkulosis seperti Jenderal Sudirman dulu, toh? [7]</p><p>Tampaknya Ibu saya benar.<br />&quot;Pikir apa yang penting buat kamu saja. Mulai dari dirimu sendiri. Sebagai seorang perempuan, seorang istri, ibu dari seorang anak.&quot;</p><p>Dan di hari pemilu, sayapun berjalan ke tempat pemungutan suara dengan berbekal kata-kata Ibu saya itu.</p><p>Inti dari tulisan saya adalah ini: <br />Ketika saya masuk ke bilik suara, saya memikirkan apa yang penting buat saya dengan keyakinan bahwa hal itu juga penting bagi mereka yang nasibnya sama seperti saya. Ketika saya di bilik suara, apa yang parpol sesumbarkan dalam kampanye di televisi, di radio, di poster-poster, di surat kabar, sudah tidak ada lagi di kepala saya. Yang ada di pikiran saya adalah apa yang dekat dengan kehidupan saya.</p><p>Mereka boleh saja berpromosi menjanjikan kemakmuran, peningkatan lapangan kerja, penggalakan ekspor, peningkatan pertumbuhan ekonomi, pemberantasan korupsi. Ya, semua itu penting untuk bangsa. Penting untuk rakyat. Tapi kalau itu yang saya pertimbangkan, semua parpol omongnya sama. Setali tiga uang. Copy &amp; paste.</p><p>Sementara itu pikiran saya tertuju pada tetangga saya yang baru saja ditinggalkan suaminya yang menikah lagi, dan wajah Lutfiana Ulfa, anak di bawah umur yang dikawini pria gaek yang mengaku Kyai.</p><p>Ya, hal-hal itu penting bagi saya.  Karena saya perempuan, dan karena saya mempunyai anak perempuan umur 11 tahun.<br />Tapi yang buat saya penting belum tentu penting bagi pembesar-pembesar partai. Sah-sah saja bila mereka tidak mempedulikan satu suara dari satu orang perempuan bodoh macam saya.</p><p>Siapalah saya ini. <br />Mereka berhak untuk tidak mempedulikan pendapat saya</p><p>Tapi di sisi lain, saya juga berhak untuk tidak memilih mereka menjadi wakil saya.<br />Contrengan saya bukan hadiah. Saya mencontreng untuk menitipkan nasib saya, dan nasib perempuan-perempuan lain yang seperti saya.</p><p>Ya, satu suara dari satu perempuan mungkin tidak ada artinya.<br />Tapi mereka harusnya ingat: di Indonesia, perempuan macam saya ini ada jutaan banyaknya...</p><p><br />--------------------------<br />Sumber:</p><p>[1] Kompas: <a href="http://kompas.co.id/read/xml/2009/03/07/10495030/kasus.syekh.puji.bukan.semata.nikah.siri">Kasus Syekh Puji Bukan Semata Nikah Siri</a> <br />[2] Detik: <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/10/23/145918/1024873/10/tidak-boleh-terjadi-nikah-di-bawah-umur-dan-nikah-siri">Kiai Husein Muhammad: Tidak Boleh Terjadi Nikah di Bawah Umur dan Nikah Siri</a> <br />[3] Detik: <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/10/24/095356/1025238/10/dpr-ini-bukan-persoalan-agama-tapi-syahwat">DPR: Ini Bukan Persoalan Agama, Tapi Syahwat</a> <br />[4] Detik: <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/10/22/175036/1024310/10/anggota-dpr-tak-masalah-asal-semua-tercukupi#">Anggota DPR: Tak Masalah Asal Semua Tercukupi</a> <br />[5] Detik: <a href="http://www.detiknews.com/read/2009/04/05/190659/1110625/10/21-nama-caleg-pelaku-dan-pendukung-poligami-versi-spi">21 Nama Caleg Pelaku dan Pendukung Poligami Versi SPI</a> <br />[6] Detik: <a href="http://pemilu.detiknews.com/read/2009/03/26/210529/1105549/700/anis-matta-itu-isu-nggak-laku-soekarno-saja-masih-banyak-pendukungnya">Anis Matta: Itu Isu Nggak Laku, Soekarno Saja Masih Banyak Pendukungnya</a> <br />[7] Wikipedia: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/General_Sudirman">Sudirman</a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/43/pemilu_dan_suara_seorang_wanit.html</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 05:38:29 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/43/pemilu_dan_suara_seorang_wanit.html</guid>
</item><item>
<title>Westminster cannot operate like some gentlemen's club, where members set up the rules and operate themselves</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Gordon Brown, di tengah heboh skandal melibatkan banyak anggota parlemen Inggris yang ketahuan menggunakan uang rakyat untuk membayari pengeluaran pribadi dari membeli tv layar datar, membeli kursi pijat, mengganti bola lampu di rumah, bahkan untuk menonton video porno.</p><p>Sumber: International Herald Tribune, May 20, 2009&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/42/westminster_cannot_operate_lik.html</link>
<pubDate>Wed, 20 May 2009 12:15:37 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/42/westminster_cannot_operate_lik.html</guid>
</item><item>
<title>Saya bukan Superman</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Susilo Bambang Yudhoyono, pada pidato deklarasi pencalonannya kembali di Bandung, 15 Mei 2009: &quot;Saya bukan Superman.&nbsp; Dengan bantuan rakyat Insya Allah saya dapat melakukan banyak hal, namun tidak mungkin saya dapat melakukan semua hal, apalagi seketika.</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/40/saya_bukan_superman.html</link>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 09:34:05 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/40/saya_bukan_superman.html</guid>
</item><item>
<title>Indonesia Mengecil</title>
<description><![CDATA[
<p>Ya, karena pemanasan global, luas wilayah Indonesia akan mengecil. Saat ini, seiring naiknya tinggi permukaan laut akibat pemanasan global, 8 dari 92 pulau terluar Indonesia semakin terancam. Pulau-pulau ini adalah Pulau Kepala, Dolangan, Manterawu, Fani, Fanildo, Brass, Laag and Nipah.</p><p>Walaupun kecil, pulau-pulau ini penting, karena pantainya menjadi patokan untuk menentukan batas teritori Indonesia. Jadi kalau satu dari pulau ini hilang, batas teritori Indonesia pun harus mundur. Alhasil, Indonesia mengecil.</p><p>Seberapa parahkah keadaannya? Sebuah survey di tahun 2004 menunjukkan bahwa ketika ketika air laut surut, luas pulau Nipah adalah 73.6 ha. Ketika pasang, luasnya &#39;hanya&#39; 1.8 ha...</p><p>Itu tahun 2004, sementara itu permukaan air laut naik 1-8mm per tahunnya. Mungkin kita tidak harus menunggu lama sebelum pulau ini tenggelam ketika air laut pasang.<br />Ingat bahwa pulau Nipah digunakan untuk mengukur batas dengan Singapura.</p><p>Jakarta juga tidak luput dari resiko. Dan bahaya datang bukan cuma dari naiknya permukaan air laut. Kita penduduk Jakarta menyedot begitu banyak air tanah untuk keperluan sehari-hari, hingga permukaan tanah Jakarta turun 1-10 cm per-tahunnya.</p><p>Ini, ditambah dengan naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global, runyamlah jadinya.</p><p>&quot;Itu salah pemerintah dong?&quot; ujar seorang teman &quot;Kalau pemerintah bisa menyediakan air bersih untuk warganya, kita tentunya tidak perlu repot-repot memompa air tanah....&quot;</p><p>Ah, ya, itu lagi. Menyalahkan pemerintah. Tapi nanti dulu. Kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu:</p><p>&quot;Sumber air minum untuk Jakarta didapat dari bendungan Citarum. Ketika musim kemarau, tinggi air di bendungan ini bisa turun hingga di bawah 75m, dan pada kondisi ini pompa di bendungan tidak bisa dioperasikan dan pasokan air untuk diproses akan berhenti...&quot;</p><p>Sementara itu, dengan pemanasan global, musim kemarau kita akan semakin panjang...</p><p>Jadi tampaknya kita akan terus menggunakan air tanah, dan tinggi tanah akan terus turun. Sementara itu permukaan laut akan terus naik.</p><p>Seberapa parahkah kondisinya? Kenaikan permukaan air laut sebanyak 0.25, 0.57 dan 1 cm per tahun akan menyebabkan area seluas 40, 45 dan 90km2 di Jakarta Utara terendam di tahun 2050.</p><p>Studi yang lain menunjukkan bahwa bila permukaan laut naik 0.5m, sementara permukaan tanah terus turun (karena kita terus menggunakan air tanah), maka Kosambi, Penjaringan, Cilincing di Jakarta Utara dan Muaragembong, Babelan, Tarumajaya  di Bekasi akan tenggelam....</p><p>Kalau anda menginginkan &#39;waterfront&#39; real estate, tentu bukan ini yang anda cari...</p><p>Lalu bagaimana dong? Adakah yang bisa dilakukan oleh rakyat jelata macam kita ini?</p><p>Tentu. Kita bisa mulai dari yang sederhana. Kelihatannya kecil, tapi kalau kita melakukannya bersama-sama, dampaknya tentu akan terasa juga:</p><p>Apa itu? Berhemat air.</p><p>Jangan biarkan kran terbuka ketika kita menggosok gigi, jangan jalankan mesin cuci bila belum penuh, gunakan air seperlunya ketika mencuci mobil/motor.</p><p>Dan periksa pipa-pipa di rumah, pastikan jangan ada yang bocor.</p><p>Air itu mahal. Lebih mahal dari biaya listrik untuk menjalankan pompa air.<br />Ingat-ingat ini ketika banjir datang melanda...</p><p>&nbsp;</p><p>----- </p><p>Sumber:</p><p>MoE. 2007. Indonesia Country Report: Climate Variability and Climate Change, and their Implication. Ministry of Environment, Republic of Indonesia, Jakarta.</p><p>Asian Development Bank - The Economics of Climate Change in Southeast Asia: A Regional Review.</p><p>&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/39/indonesia_mengecil.html</link>
<pubDate>Thu, 14 May 2009 05:49:50 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/39/indonesia_mengecil.html</guid>
</item><item>
<title>Wakil presiden tidak bisa apa-apa karena cuma pembantu presiden</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Permadi, anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra, menegaskan keengganan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto untuk menjadi calon wakil presiden. Kendati perolehan suara Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) hanya 4,46 persen, Prabowo tetap bersikeras hendak mencalonkan diri sebagai capres.</p><p>&quot;Jabatan wapres selama ini lebih berperan sebagai ban serep. &quot;Wakil presiden tidak bisa apa-apa karena cuma pembantu presiden. Menandatangani surat keputusan saja tidak bisa.&quot;</p><p>--- <br />Sumber: Kompas,&nbsp;<a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/13/14031421/Anggap.Wapres.Ban.Serep..Prabowo.Emoh.Jadi.Cawapres">Anggap Wapres Ban Serep, Prabowo Emoh Jadi Cawapres </a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/38/wakil_presiden_tidak_bisa_apa_.html</link>
<pubDate>Wed, 13 May 2009 06:15:12 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/38/wakil_presiden_tidak_bisa_apa_.html</guid>
</item><item>
<title>Pertanian seret kredit</title>
<description><![CDATA[
Kredit untuk pertanian di Indonesia selama lima tahun terakhir ternyata hanya 6% dari total penyaluran kredit nasional.<p>Sumber: Kompas, <a href="/mburi/kutipan.php?do=add">Waduh, Kredit untuk Pertanian Hanya 6 Persen </a> </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/catatan/37/pertanian_seret_kredit.html</link>
<pubDate>Tue, 12 May 2009 08:28:25 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/catatan/37/pertanian_seret_kredit.html</guid>
</item><item>
<title>Ke Timur Kita Pergi</title>
<description><![CDATA[
Siapa sangka: Para produsen mobil saat ini mulai mendesain mobilnya berdasarkan selera dari pembeli mobil di.... Cina.<p>Ya, pasar mobil di Cina saat ini sudah menjadi yang terbesar di dunia, mengalahkan Amerika Serikat, dan karena itu selera pembeli Cina pun jadi penting.</p><p>Salah satu desain yang diubah untuk mengikuti selera pembeli mobil di Cina: jok belakang harus lebih nyaman. Penyebabnya: banyak pemilik mobil di Cina yang mempekerjakan supir, jadi mereka lebih sering duduk di belakang.</p><p>Dieter Zetsche, chairman dari perusahaan mobil Daimler berkata &quot;pusat gravitasi sudah bergeser ke timur&quot;. Bukan di barat lagi.</p><p>Majalah the Economist juga melihat betapa Asia semakin lama semakin penting. Majalah tersebut menambah kolom khusus membahas Asia, menyusul kolom-kolom yang sudah ada sebelumnya, yang membahas Eropa, Amerika dan Inggris.</p><p>&quot;Bukankah ini abad milik Asia? Kami pikir begitu,&quot; Tulis majalah itu.</p><p>Abad milik Asia.</p><p>Tapi nanti dulu: kalau mereka menyebut Asia, pujian tersebut biasanya lebih ditujukan ke Cina dan India.</p><p>Indonesia? Sekarang sudah jauh lebih baik, tapi dibanding Cina dan India, masih belum ada apa-apanya.</p><p>Ayo Indonesia. Jangan sampai bila orang menyebut &#39;kesuksesan Asia&quot; kita tidak bisa ikut bangga...</p><p>----</p><p>Sumber:<br />[1] International Herald Tribune, April 21, 2009, Page 18: Chinese tastes reshaping global auto market<br />[2] The Economist, April 11th-17th 2009, page 53, Banyan: In the shade of the banyan tree </p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/opini/36/ke_timur_kita_pergi.html</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 10:45:08 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/opini/36/ke_timur_kita_pergi.html</guid>
</item><item>
<title>Kemiskinan berkurang</title>
<description><![CDATA[
Menurut Asian Development Bank, jumlah orang miskin di Indonesia di tahun 2005 berkurang 32.8%. bila dibandingkan dengan tahun 1990.<p>Di tahun 1990, jumlah rakyat miskin yang hidup dengan $1.25 per hari adalah 54.3%. Di tahun 2005 21.4%</p><p>Bila angka yang digunakan adalah $2 per hari, maka di tahun 1990 ada 84.6%, dan  di tahun 2005 53.8%.</p><p>&nbsp;</p><p>Sumber: The Economics of Climate Change in Southeast Asia: A Regional Review - Asian Development Bank, April 2009</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/catatan/35/kemiskinan_berkurang.html</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 10:30:09 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/catatan/35/kemiskinan_berkurang.html</guid>
</item><item>
<title>Anda harus pintar, tapi tidak harus jenius</title>
<description><![CDATA[
Mengutip <p>Warren Buffet, menyinggung soal berinvestasi yang menurutnya tidak memerlukan formula matematika yang rumit.</p><p>&quot;Kalau anda punya IQ 150, jual yang 30 ke orang lain. Anda harus pintar, tapi tidak harus jenius...&quot;</p><p>Sumber: International Herald Tribune, May 6, 2009, halaman 20, Buffet calls for a return to the basics.&nbsp;</p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/34/anda_harus_pintar__tapi_tidak_.html</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 02:02:35 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/34/anda_harus_pintar__tapi_tidak_.html</guid>
</item><item>
<title>Kopi Merah Putih</title>
<description><![CDATA[
<div id="cover"><img src="/pic/cover_small.jpg" alt="Cover Kopi Merah Putih" title="Cover Kopi Merah Putih" width="299" height="497" /></div><em><strong>Indonesia Anonymus</strong><br />ISBN: 978-979-22-4529-5, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama</em><p>&nbsp;</p><p><strong>Apa isi buku ini?</strong></p><p>Buku ini berisi obrolan dengan beragam topik: dari ngobrol soal listrik sampai soal pendidikan. Dari soal subsidi sampai soal bajaj. Buku ini juga ngobrol tentang pisang, toko kecil, HIV/AIDS, kartu kredit, pedagang asongan, sampai sinetron. Banyak topik yang serius (tapi kami sajikan secara ringan agar enak dibaca), ada juga topik bercanda. Namanya juga ngobrol.</p><p>Misalnya:</p><p>Mengapa banyak para profesional muda -- termasuk teman-teman kami -- yang walaupun punya gaji sangat lumayan, tetap terlilit hutang kartu kredit? Kok bisa? Bukankah kalau mau mereka bisa melunasi tagihan setiap bulannya?</p><p>Semua orang tahu bahwa lulusan universitas top akan lebih mudah mendapat pekerjaan dibanding universitas tak terkenal. Lalu bagaimana nasib kita kalau kita sudah terlanjur lulus dari universitas tak terkenal dan sampai sekarang masih menganggur? Harus bagaimana kita?</p><p>Bicara soal HIV/AIDS, seorang teman berkata: &quot;HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan seksual atau melalui jarum suntik yang terkontaminasi. Selama saya dan keluarga saya lurus-lurus saja, HIV tidak akan jadi masalah saya toh?&quot;. Jawabannya ternyata ada di cerita teman kami yang lain: Ia dikejutkan berita bahwa beberapa karyawan di kantornya tertular tuberkulosis (TBC). Tuberkulosis dan HIV/AIDS? Lho, apa hubungannya?</p><p>Betulkah bahwa setelah reformasi, Indonesia justru semakin miskin? Kami menggali fakta dan mencari jawabannya untuk anda.</p><p>Dan masih banyak lagi...</p><p><br /><strong>Penulisnya Indonesia anonymus? Anonim? Kenapa anonim?</strong></p><p>Karena sama seperti anda, semenjak musim kampanye pemilu kemarin kami capek dengan hingar-bingar manusia mempromosikan dirinya sendiri: menonjol-nonjolkan kemampuan, menyembunyikan kekurangan, berpromosi habis-habisan, agar populer, terkenal, disukai, dianggap mampu, bla bla bla.<br />Semua demi satu hal: jabatan.</p><p>Anda pasti capek dengan semua itu. Seperti kami, anda juga pasti ingin sesuatu yang beda.<br />Maka di sini kami menawarkan sebaliknya: kami tidak menulis buku ini untuk jadi terkenal, untuk jadi populer, untuk disukai, untuk dianggap mampu, atau untuk jadi caleg. Kami tidak cari nama. Jadi kami pilih tanpa nama. Anonim. Kami hanya ingin menulis, dan menulis apa adanya.</p><p>(Untuk melengkapi semangat itu, dengan rendah hati kami sampaikan di sini bahwa pendapatan bersih dari buku ini nantinya akan didedikasikan untuk kegiatan amal dalam bidang pendidikan. Ya, betul: kami tidak ingin meraup keuntungan dari buku ini. Bukan karena kami tidak butuh uang, tapi karena seperti anda kami juga rindu patriotisme, dan buku ini jadi korban kerinduan itu.)</p><p>Anonim kadang diasosiasikan dengan lempar batu sembunyi tangan, dan kami memahami bila itu yang ada di benak anda. Tapi buku ini tidak &#39;melempar batu&#39; ke siapa-siapa, karena ini bukan buku yang mengkritik sana-sini. Kami juga semaksimal mungkin menyediakan catatan kaki yang lengkap untuk setiap sumber dari fakta-fakta yang kami kutip, untuk membuktikan bahwa kami tidak sembarang omong. Jadi kami tidak melempar atau menyembunyikan apa-apa.</p><p><strong>Lalu siapa Indonesia-anonymus ini?</strong></p><p>Kami sama seperti sebagian dari anda, adalah kuli kerah-putih Indonesia. Kami adalah sekelompok karyawan biasa, pekerja kantoran Jakarta, yang membanting tulang dari pagi hingga malam, pulang ke rumah kelelahan hanya untuk berangkat lagi keesokan harinya, demi gaji yang entah kenapa tidak pernah cukup.</p><p>Seperti sebuah Indonesia mungil, kelompok kami terdiri dari ras, agama dan suku yang berbeda. Sebagian besar dari kami berpendidikan sarjana, beberapa dengan tambahan gelar Master dan Doktor. Sebagian lulusan universitas dalam negeri, sebagian lagi lulusan luar negeri.Tapi terus terang saja, semua fakta itu tidak penting. Yang penting adalah kami pada dasarnya sama dengan anda. Pemikiran kami-pun boleh jadi juga sama dengan pemikiran anda. Kami adalah anda, kami dan anda adalah kita, dan kita adalah Indonesia.</p><p>Sama seperti anda, walaupun sibuk mencari makan, kita tentunya masih menyempatkan diri untuk berkumpul: duduk-duduk, minum kopi, dan ngobrol sana-sini. Ibukota banjir setiap tahun? Harga-harga membumbung tinggi? Pendidikan untuk anak-anak kita semakin mahal dan kualitasnya semakin rendah? Polusi semakin parah? Obrolan kita pun kemudian menjadi hangat dengan keluhan, pandangan, dan kritikan. Ide-ide perbaikan dilontarkan. Pro dan kontra diperdebatkan. Tapi akhirnya waktu berlalu, kopi habis, dan kita-pun harus beranjak untuk kembali ke rutinitas sehari-hari.<br />Apakah obrolan tadi akhirnya hanya tinggal obrolan? Banyak bicara sedikit bekerja? Buku ini ingin membuktikan sebaliknya.</p><p><strong>Kenapa judulnya Kopi Merah Putih?</strong></p><p>Karena ketika ngobrol sambil ngopi, pemikiran kita tidak selalu sama: ada yang berpendapat begini, ada yang berpendapat begitu. Ada yang setuju, ada yang tidak. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang jelek. Ada yang bilang manis ada yang bilang pahit. Ada yang bilang merah, ada yang bilang putih. Tapi bila digabung, jadilah merah putih. Jadilah Indonesia. Berbeda-beda (pendapat) tapi tetap satu.</p><p>&nbsp;</p><p align="center">&nbsp;-----</p><p><em>Buku bisa dibeli di toko-toko buku Gramedia, online di situs <a href="http://gramedia.com/buku_detail.asp?id=JDbQ2236&amp;kat=3">Gramedia Pustaka Utama</a>, maupun di toko-toko buku kesayangan anda. </em></p>
]]></description>
<link>http://indonesia-anonymus.com/kutipan/34/anda_harus_pintar__tapi_tidak_.html</link>
<pubDate>Mon, 04 May 2009 18:10:02 -0400</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://indonesia-anonymus.com/kutipan/34/anda_harus_pintar__tapi_tidak_.html</guid>
</item>
</channel>
</rss>